Keutamaan Bulan Sya’ban

30 Juli 2009

Firman Alloh,”Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima”

artinya,” Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya bersholawat pada Nabi (Muhammad), wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah pada Nabi (Muhammad)”.

Sabda Nabi,”Bulan Rojab adalah bulan Alloh, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Romadhon adalah bulannya Alloh, tetapi sedikit yang mengingat Sya’ban”

Memang sedikit yang meningat bulan Sya’ban. Sebagai bulannya Nabi Muhammad SAW.

Mengapakah bulan Sya’ban disandarkan pada Nabi Muhammad SAW ??

Perhatikanlah, turunnya ayat di atas, yaitu tentang perintah bersholawat,

Firman Alloh,”Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima“, ayat tersebut turunnya adalah di dalam bulan Sya’ban.

Sebab itulah, pada bulan ini, bagi orang-orang tasawuf (yang mendalami melalui thoriqoh), merupakan kesempatan besar untuk mendekatkan diri pada nabi Muhammad, melalui memperbanyak membaca sholawat, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja.

Kalau bagi orang yang perempuan yang lagi berhalangan, tidak diperkenankan untuk sholat, tetapi membaca sholawat pada Nabi adalah merupakan ibadah yang tetap boleh dilaksanakan oleh mereka.

Kemudian perhatikanlah firman Alloh di atas,

1. Alloh bersholawat pada Nabi Muhammad.

2. Malaikat bersholawat pada Nabi Muhammad.

3. Orang-orang yang beriman bersholawat pada Nabi Muhammad.

Ada tiga macam sholawat pada Nabi Muhammad. SholawatNya Alloh, Sholawatnya malaikat dan sholawatnya orang-orang mukmin. Yang masing-masing adalah berbeda.

Bagi umumnya pemahaman, bersholawat (sholawatnya orang mukmin) adalah

MENGHADIAHI do’a pada Nabi. Bagi sebagian lagi orang awam, bersholawat pada Nabi adalah mendo’akan Nabi Muhammad agar senantiasa diberi KESELAMATAN.

Maka menurut pemahaman yang saya yakini, dua pendapat umum di atas adalah kurang tepat dan akan membuka peluang bagi orang agama lain untuk menyerang agama Islam.

“Lihatlah, Nabinya Islam itu masih meminta di do’akan supaya selamat, maka jelas berarti Nabi Muhammad adalah BELUM selamat. Ya lebih baik beragama Kristen, karena Yesus tidak minta dido’akan selamat lagi, karena Dia adalah

Juru selamat.”

Bagaimanakah seandainya kita ditanya seperti itu ???

Perhatikanlah yang kedua.

Masalah MENGHADIAHI do’a pada nabi Muhammad. Hadiah itu diberikan dari

seseorang yang “berlebih”, pada seseorang yang “kurang”.

Maka beranikah kita mengatakan derajat kita MELEBIHI derajatnya Nabi  Muhammad SAW??

Sama artinya menaburkan garam ke dalam lautan.

(“Nguyahi segoro“, -bhs Jawa).

Lalu, bagaimanakah semestinya ???

Ada lagi yang berpendapat, bahwa ibaratnya kita membaca sholawat itu, seperti menambahi air di satu tempat, sedangkan di tempat itu airnya sudah penuh, maka air yang kita tambahkan akan jatuh kembali pada diri kita.

Ini juga sama saja kurang tepatnya. Pahamilah ini benar-benar.

Bahwa Nabi Muhammad itu adalah sebaik-baiknya manusia dan semulia mulianya manusia. Beliaulah yang dapat memberikan SYAFA’AT pada kita.

Beliaulah USWATUN HASANAH, beliaulah WASILATUL UDMA.

Lalu bagaimanakah semestinya iktiqod kita di saat bersholawat ???

“Sholawat” akar katanya adalah “Shollu”. Sama dengan akar kata dari “Sholat”, yang “Shollu” itu berarti “HUBUNGAN”, pada saat kita membaca sholawat pada Nabi, ibarat kita memasang suatu jalur penghubung antara kita pada Nabi. Atau itu sama artinya kita menjalin KOMUNIKASI dengan nabi Muhammad. Di sinilah mestinya IKTIQOD kita.

Sambil mengharap syafaat beliau, mengharap petunjuk beliau, mengharap limpahan rohmat beliau, sebagaimana yang sudah kita pahami.

“TAAT pada ROSULULLOH sama dengan TAAT pada ALLOH”

“Tidak akan sampai pada ALloh kecuali melalui Muhammad”.

Apakah kita pernah berpikir bahwa ALloh mengajarkan Islam secara langsung pada kita…???

Tidak……., melainkan Melalui beliaulah(Muhammad), Alloh menurunkan ajaran Islam pada seluruh umat manusia.

Beliaulah WASILATUL ‘UDMA, atau “WASILAH YANG AGUNG”.

Kemudian melalui para Ulama “Warosatul Anbiya” atau Ulama yang mewarisi

ilmu-ilmu para nabi-lah kita memperoleh pengajaran dan keterangan tentang agama Islam.

Tidak langsung dari Alloh seketika, pada kita, melainkan melalui perantara beliau-beliau itu, para alim ulama, para tabiin, para sahabat dan melalui Nabi Muhammad SAW.

Sebab itulah Alloh memerintahkan pada kita di Al-Qur’an untuk mencari PERANTARA atau WASILAH yang dapat mendekatkan diri pada-Nya.

Para sahabat juga berdo’a dengan memanfaatkan PERANTARA Muhammad, Paman

Muhammad, Ibnu Abbas, dll.

Kembali pada keutamaan bulan Sya’ban.

Pada bulan ini, sekali lagi merupakan kesempatan kita mendekatkan diri pada Nabi Muhammad SAW melalui banyak-banyaklah membaca sholawat pada beliau.

Sholawatnya Alloh pada Muhammad adalah berbeda dengan sholawatnya malaikat pada Nabi Muhammad, dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad.

Sholawatnya malaikat adalah berbeda dengan sholawatnya Alloh pada Muhammad dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad SAW.

Kemudian, Pada tanggal 15 Sya’ban atau nisfu sya’ban, merupakan puncak keistimewaan bulan ini, dan sungguh-sungguh sangat merugi orang yang tidak mau memanfaatkan tanggal tersebut untuk memohon pada Alloh.

Pada tanggal 15 Sya’ban itu-lah turun 300 rohmat, sebagaimana berita Jibril pada Muhammad. Dan pada tanggal 15 Sya’ban inilah seandainya catatan “pencabutan nyawa

seseorang” untuk tahun depan sudah akan berlaku, pada malam 15 Sya’ban ini, catatan itu turun pada malaikat pencabut nyawa.

Sekelompok orang-orang tasawuf memanfaatkan malam ini untuk memohon pada Alloh, agar seandainya catatan itu untuk kita sudah turun, mohon supaya ditangguhkan.

Yang berikutnya, tak kalah pentingnya adalah,Di dalam QS Al ma’un, mengapakah sebab tidak mau menyantuni anak yatim dan fakir miskin, maka terkenalah seseorang itu cap/stempel KADZIB, Pendusta Agama ?

Allah berfirman “La’natullah alal Kadzibin” “Laknatnya Allah atas orang-orang pendusta agama”

Jadi seandainya sudah mengerjakan sholat selama bertahun-tahun, sudah  mengerjakan puasa, zakat bahkan ibadah haji yang berulang kali, tetapi pabila tidak mau menyantuni anak yatim dan fakir miskin, maka DUSTAlah adanya, seluruh ibadah yang dilakukan akan hangus terbakar, musnah.

Nabi bersabda “Keimanan tanpa Kemanusiaan” adalah Kadzib, Dusta, sementara “Kemanusiaan tanpa keimanan” itu adalah fatamorgana. Seolah-olah baik, tetapi ternyata tidak baik.

Kadzib ada 232x disebutkan di dalam al Quran, lalu ada rahasia apa dibalik menyantuni anak yatim dan fakir miskin ?

Marilah kita sejenak melihat sejarah Rasulullah saw, Beliau dulunya adalah anak yatim dan juga beliau dulunya adalah fakir miskin.

Maka tahulah kita hakekat daripada menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sebenarnya adalah hakekatnya kita menjalin hubungan dengan nabi Muhammad saw sendiri yang mulai dulu memang anak yatim dan juga termasuk fakir miskin.

Maka tidak heran jika Nabi berkata “Mereka yang menyantuni 3 anak yatim, maka dia akan berada di dalam sorga dekat dengan aku sebagaimana deketnya dua jariku ini”

Pada bulan Sya’ban ini marilah, saya mengajak saudara-saudara seiman, untuk benar-benar memanfaatkan hari-hari, jam-jam, bahkan tiap detik, untuk dijaga agar tidak lepas HUBUNGAN dengan Nabi Muhammad SAW, melalui bacaan-bacaan sholawat dan menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

Dan bila itu kita kerjakan, tak heran bila Nabi Muhammad saw sendiri yang akan menemui kita :)

Wasalam

huttaqi

http://www.huttaqi.org


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.