Pahala Puasa Ramadhan

CL0102

Surat Al Baqarah :183-184

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, berpuasa pada beberapa hari tertentu ialah pada bulan Ramadhan. Dan barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka)”.

Diriwayatkan oleh Abdurahman Ibn Auf bahwa Rasulullah bersabda: telah datang padaku jibril dan berkata: Hai Muhammad tiada seorang membaca shalawat untukmu kecuali untuk dia dibacakan shalawat oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan barang siapa untuk dia malaikat membacakan shalawat ia adalah orang syurga.

Rasulullah Saw. diriwayatkan besabda bahwa Allah SWT. berfirman:

”Sesungguhnya semua amal ibadah anak Adam ialah untuk ia sendiri kecuali ibadah puasa yang diamalkan untuk Aku, maka Akulah yang akan membalasnya, karena puasa adalah ibadah lalu, maka Tuhan yang mengetahui dan melihat amal itu, ialah yang akan membalasnya”.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

”Jika hari kiamat tiba akan datanglah sekelompok makhluk Tuhan yang bersayap sebagai sayapnya burung beterbangan dan berhinggap di tembok-tembok syurga. Bertanyalah pada mereka malaikat juru kunci syurga siapakah kamu ini? Kami adalah dari umat Muhammad. Sudahkah kamu melihat/mengalami hisab? Tanya lagi si malaikat. Tidak, jawab mereka..  Sudahkah kamu melihat jembatan Sirath? Berkata si malaikat. Tidak kata para makhluk tadi. Maka dengan apa kamu dapat memperoleh pahala dan derajat ini? Tanya si Malaikat: di jawab oleh para makhluk itu: kita menyembah Allah di dunia secara rahasia diam-diam dan dimasukkan syurga di akhirat secara rahasia dan diam-diam pula”.

Jika seorang yang berpuasa kuatir akan binasa lantaran lapar dan dahaga, atau ia sedang sakit dan kuatir dengan berpuasa akan tambah parah penyakitnya, maka ia dibolehkan berbuka. Karena keadaan darurat, barang yang terlarang mubah dapat dikerjakan.. diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

”Umatuku telah diberi lima perkara yang tidak pernah diberika kepada ummat sebelumnya: Pertama; pada malam pertama bulan Ramadhan Allah memandang mereka dengan rahmat dan kasih, dan barangsiapa dipandang oleh Tuhan dengan rahmat dan kasih tidak akan disiksa, Kedua, Allah memerintahkan kepada malaikat memintakan ampun bagi umatku, Ketiga; bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih wangi dari bau kasturi di depan Allah, keempat; Allah, berfirman: bahagialah hambaKu yang beriman, mereka adalah kekasihKu, maka bersiap-siaplah hai syurga merias diri, kelima; Allah mengampuni mereka semua”.

Dan barangsiapa berpuasa dalam Ramadhan dengan ikhlas dan penuh iman diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.

Diriwayatkan oleh Jabir bahwa Rasulullah bersabda:

Pada malam terakhir ulan Ramadhan, langit, bumi dan malaikat menangis berduka cita bagi Umat Muhammad. Bertanya salah satu sahabat: Musibah apa hai Rasulullah? Perginya bulan Ramadhan, karena dalam bulan itu semua do’a terkabul, semua sedekah keterima, semua amal kebaikan berlipat ganda pahalanya dan adzab terhindarkan, jawab Rasulullah”.

Maka tiada musibah lebih besar dari perginya bulan Ramadhan, jika langit dan bumi menangis untuk kita umat Muhammad maka lebih-lebih kita harus menangis dan menyesal karena terputusnya segala karunia dan kemuliaan serta kebaikan yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

”Allah Swt, telah menjadikan seorang malaikat berwajah empat. Jauhnya satu jawah ke wajah yang lain sejauh perjalanan seribu tahu. Dengan wajah yang satu ia bersujud sampai hari qiamat, berkata dalam sujudnya: alangkah agungnya kecantikanmu dan dengan wajah yang kedua ia memandang ke syurga dan berkata, bahagialah bagi yang memasukinya dan dengan wajah keempat ia memandang ke Arsy Tuhan sambil berdo’a: Ya Tuhan berlilah rahmat dan jangan mengadzab mereka  yang berpuasa dari umat Muhammad Saw”.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Swt memerintahkan kepada malaikat pencatat dalam bulan Ramadhan – yang mencatat amal manusia – agar mencatat segala amal kebajikan umat Muhammad dan tidak mencatat dosa ma’siatnya dan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu”.

Dikatakan bahwa puasa itu ada tiga tingkat: Puasa awam, puasa orang utama dan puasa orang terutama. Puasa awam ialah menahan perut dan kemaluan dari pelampiasan hawa nafsu, puasa orang utama ialah puasanya orang solihin, yaitu menahan anggota badan dari kema’siatan, yang tidak bisa sempurna kecuali dengan pelaksanaan lima perkara: Pertama: menahan pandangan mata dari segala sesuatu yang dicela oleh syariat. Kedua: menahan lidah dari dusta, memfitnah, sumpah palsu dan menjelek-jelekan orang lain dibelakangnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bahwa rasulullah Saw. bersabda :

”Lima perkara membatalkan puasa: dusta, fitnah (ghibah), sumpah palsu, menjelek-jelekkan orang lain di belakangnya dan pandangan dengan syahwat”.

Perkara ketiga: menahan telinga dari pendengaran sesuatu yang tidak baik. Keempat: menahan anggota badan dan menahan perut dari makanan yang syubhat di waktu buka puasa, karena tidak adar artinya berpuasa dari makanan halal tetapi berbuka dengan makanan haram, sehingga dapat disamakan dengan seorang yang membangun gedung tapi membongkar kota. Kelima : menahan diri di waktu buka sehingga tidak terlalu penuh.

Bersabda Rasulullah Saw.

”Tidak ada sesuatu wadah yang paling dibenci oleh Tuhan daripada perut yang penuh dengan makanan halal”.

Beberapa orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Adapun puasa orang terutama, ialah puasa hati dari semangat-semangat yang rendah dan fikiran-fikiran duniawi dan menahannya dari segala sesuatu kecuali Allah. Tingkat puasa ini adalah tingkat Nabi-nabi dan para hamba Tuhan yang terpercaya.

Puasa ialah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah, tidak ada yang menyekutuinya, berbeda dengan lain-lai ibadah, seperti sembahyang dan bersedekah. Orang-orang kafir adal yang sembahyang dan menyembah berhala atau sembahyang dan sujud untuk matahari atau bulan dan ada pula yang bersedekah untuk berhala, tetapi tidak ada yang berpuasa kecuali untuk Allah Swt. karenanya menurut Abul-Hasan, pahala orang yang berpuasa selain syurga, ia akan dapat melihat dan dilihat oleh Tuhan dan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan tanpa penengah dan penterjemah.

Diriwayatkan bahwa seorang pemuda datang menanya pada Ibnu Abbas ra. apakah boleh ia mencium istirinya sewaktu ia berpuasa? Tidak, jawab Ibnu Abbas, kemudian datang seorang tua mengjaukan pertanyaan serupa yang dijawab oleh Ibnu Abas dengan ”Boleh” maka kembalilah sang pemuda berkata: Kenapa engkau menghalalkan bagi dia apa yang engkau haramkan bagi saya pada hal kita sama-sama seagama, maka dijawab oleh Ibnu Abbas: Dia orang tua yang dapat menahan diri tetapi engkau seorang muda yang tidak kuasa menahan syahwatmu.

Dikatakan bahwa tujuan yang dimaksud dengan ibadah berpuasa ialah mengalahkan Syaithan musuh Allah Swt. dengan jalan mematahkan senjatanya yang ampuh, ialah hawa nafsu dan syahwat. Cara satu-satunya untuk melemahkan hawa nafsu dan syahwat ialah dengan mengurangi makan dan minum. Diriwayatkan sehubungan dengan kewajiban berpuasa, bahwa tatkala allah Swt. menciptakan ”akal” dan setelah diperintahnya untuk datang dan pergi, ditanya: ”Siapakah engkau?” Akal menjawab: ”Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu yang lemah”. Lalu berfirmanlah Allah: ”Hai akal! Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih mulia dari engkau”. Kemudian Allah Swt. menciptakan hawa nafsu yang enggan melaksanakan perintah sebagaimana diperintahkan kepada ”akal”, bahkan sewaktu ditanya oleh Allah: ”Siapakah engkau dan siapakah Aku?” ia menjawab: ”Engkau adalah Engkau dan aku adalah Aku”. Lalu diadzablah is hawa nafsu dengan api neraka sepanjang seratus tahun. Setelah menjalani hukuman Tuhan sepanjang seratus tahu, dikeluarkanlah ”hawa nafsu” dari Jahannam dan ditanya kembali seperti semula yang dijawabnya pula seperti jawabannya semula, maka diadzablah ia dengan kelaparan sepanjang seratus tahun lagi. Dalam kesempatan ketiga setelah selesai masa hukumannya yang kedua, mengakulah ”hawa nafsu” dan menjawab pertanyaan Tuhan dengan kata-kata: ”Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu” maka diwajibkanlah ia berpuasa.

Keagungan Bulan Ramadhan

Khutbah Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: